Disaat Kematian Menjadi Satu-satunya Harapan
picture by Alone In The Hollow Garden & Nam-Khar - Bandcamp
"Sebuah harapan bagaikan berlian di tengah hamparan lumpur"
Namun bagaimana apabila kematian yang menjadi satu-satunya harapan? masih kah dapat terlihat berkilau bagai berlian?
Secercah cahaya itu datang melewati celah-celah tembok penghalang, para pesakitan itu tetap duduk terdiam, tak ada pergerakan yang berarti, tak terdengar bising suara, yang terdengar hanyalah hembusan nafas dan degub lemah jantung mereka. Sesekali batuk yang berat membuat suasana gaduh sejenak lalu kembali terdiam dan sunyi.
Tepat pukul delapan pagi, pintu besi itu terbuka. Tak serupa awal perjumpaan, tak ada yang berusaha untuk menjadi yang paling utama keluar dalam belenggu bahkan tak ada semangat, tak ada yang bergeming dari persandaraanya. Amarah yang entah sejak kapan menyelubungi sang algojo, dia membanting dan memukul-mukul semua benda yang ada di sekitarnya, membuat tubuh-tubuh renta itu berusaha bangkit, dengan tergopoh-gopoh seraya menggapai-gapai benda sekitar untuk dapat menegakan tubuh rapuhnya.
Sesosok tubuh di sudut ruangan tersebut tak bergeming, algojo yang murka menyiramnya dengan air kopi panas yang dibawanya namun tubuh itu tetap terkulai. Tubuh yang tergolek itu diseret dari tempatnya tanpa belas kasih pakaiannya dilucuti satu persatu sampai seluruh bagian kulit ditubuhnya terbakar sinar matahari, Namun tetap tak bergeming sedikit pun, para medis berjalan santai menghampiri seonggok tulang terbungkus kulit itu lalu membungkusnya dengan plastik hitam dan kembali menyeretnya melewati gerbang kebebasan, para pesakitan yang lain menatap dengan pandangan kosong, air wajahnya seperti makhluk tak bernyawa.
Dalam asa mereka berharap dapat menyusul kehidupan kekal itu, sebagai satu-satunya harapan terbebas dari belenggu antara hidup dan sengsara. 'Mati' kami memilih mati dibandingkan tersiksa lahir dan batin berada dalam neraka dunia. Kami dianggap berbeda, dipisah-pisahkan, dijauh-jauhkan, dianggap telah tiada tapi tak ada yang sesegera mungkin menghabisi nyawa kami yang terlanjur tidak lagi memiliki harga pantas sebagai makhluk.
Pertunjukan telah usai, para pesakitan itu dipaksa untuk bergerak cepat melakukan segala perintah algojo dengan pecutan, makian, hantaman, teriakan. Sudah terbiasa mereka menerima perlakuan itu malah sudah bosan bisa jadi sangat muak, namun tak ada yang dapat mereka lakukan sisa hidup mereka hanya menjadi jongos pesakitan, mereka terlanjur terjebak dalam pusara nista dunia. Kesempatan untuk keluar dari belenggu kesengsaraan hanyalah kematian karena tak ada yang dapat menolong mereka selain Tuhan.
Oleh : Ardelita Nuarti

This comment has been removed by a blog administrator.
ReplyDelete